Nenek Moyang Orang Margakaya

9 Oktober 2020 1.288x Pojok Pringsewu, Sejarah

Beranda » Pojok Pringsewu » Nenek Moyang Orang Margakaya
Nenek Moyang Orang Margakaya

Peninggalan Kerajaan Sekala Brak

Sejarah Suku Tumi, La Laula dan Kerajaan Sekala Brak

Pada Abad Ke 3 M hiduplah sebuah suku purba di lereng gunung tertinggi di Lampung (Pesagi) yang bernama suku Tumi. Suku tersebut diperkirakan datang dari India beberapa millennium sebelum masehi. Suku Tumi berasal dari asal nama Tamil, sebuah suku bangsa yang masih ada hingga sekarang di India (Ahmad Safei, 1972). Berikut ulasan Nenek Moyang Orang Margakaya.

Namun, eksistensi suku Tumi yang telah ada sebelumnya dijatuhkan oleh kedatangan La Laula yang kemudian mendirikan sebuah Kejaraan yaitu Sekala Brak.

La Laula bukan penduduk asli. Ia bersama pengikutnya tiba di Sekala Brak dari Hindia Belakang (sekitar Vietnam dan Kamboja) pada awal abad Masehi dengan menggunakan kapal kano. La Laula tiba di sebuah negeri yang di penuhi pohon sekala di mana-mana, di situlah telah berdiam suatu entitas masyarakat yang bernama Suku Tumi.

Suku Tumi merasa terdesak dengan kehadiran La Laula yang lambat laun berhasil menarik pengikut dari kalangan masyarakat lokal. Setelah melalui pertempuran yang cukup lama, La Laula dan pengikutnya berhasil menaklukkan Suku Tumi serta mendudukkan dirinya sebagai Raja Kerajaan Sekala Brak.

Menurut versi lain, pendiri kerajaan Sekala Brak adalah Raja Buay Tumi. Sebelum mendirikan Kerajaan, Buay Tumi adalah pemimpin Suku Tumi yang menganut animisme dan dinamisme.

Ada beberapa teori tentang etimologi tentang Sekala Brak, yaitu:

  • Sakala Bhra yang berarti titisan dewa (terkait dengan Kerajaan Sekala Brak Hindu)
  • Segara Brak yang berarti genangan air yang luas (diketahui sebagai Danau Ranau)
  • Sekala Brak yang berarti tumbuhan sekala dalam jumlah yang banyak dan luas (tumbuhan ini banyak terdapat di Pesagi dan dataran tingginya)

Dari dataran Sekala Brak inilah sebagian leluhur bangsa Lampung menyebar ke setiap penjuru dengan mengikuti aliran Way atau sungai-sungai yaitu way komering, way kanan, way semangka, way seputih, way sekampung dan way tulang bawang beserta anak sungainya, sehingga meliputi dataran Lampung dan Palembang serta Pantai Banten.

Tambo – Kulit Kayu Sekala Brak

Tambo – Kulit Kayu Sekala Brak betulis Aksara Lampung berisi Silsilah Raja – Raja dan batas Wilayah Kekuasaan

Kedatangan 4 Umpu Kerajaan Pagar Ruyung dan Pasukanya

Pada perjalanan abad ke – 13 M, datang rombongan 4 Umpu dari Pagaruyung beserta pasukan. Pagaruyung yang berpusat di Batusangkar, Sumatra Barat, adalah sebuah Kerajaan Islam.

Kedatangan orang-orang dari Kerajaan Pagar Ruyung tidak sekadar ingin menguasai wilayah ini semata, melainkan mekreka sekaligus mendakwahkan agama Islam di kawasan Kerajaan Sekala Brak, Lampung. Mereka menumbangkan eksistensi Kerajaan Sekala Brak yang menganut Animisme yang saat itu dipimpin oleh Ratu Sekeghumong pada peralihan abad 13 – 14 Masehi.

Suku Tumi pun tercerai berai, mereka kabur ke segala arah demi menyelamatkan diri. Tersingkirnya Suku Tumi tidak hanya di sebabkan kehadiran orang Islam dari Paguruyung saja. Namun juga faktor lain seperti terjadi perselisihan internal, perselisihan aturan adat, hingga bencana alam.

Keempat Umpu Kerajaan Pagar Ruyung itu adalah :

  • Umpu Bejalan Di Way. Dia adalah Pendiri Paksi Buay Bejalan Diway memerintah dan dimakamkan di Puncak, Sukarami Liwa
  • Umpu Belunguh. Dia adalah Pendiri Paksi Buay Belunguh memerintah di Barnasi, Belalau
  • Umpu Nyerupa. Dia adalah Pendiri Paksi Buay Nyerupa memerintah di Tampak Siring, Sukau
  • Umpu Pernong. Dia adalah Pendiri Paksi Buay Pernong memerintah di Henibung, Batu Brak

Kedatangan 4 Umpu ini tidaklah bersamaan. Berdasarkan penelitian terakhir di ketahui bahwa menyebarnya agama Islam dan pembaharuan adat di lakukan setelah kedatangan Umpu Belunguh sehingga kemudian di mulailah era Kesultanan Islam di Sekala Brak.

Pada masa kejayaan suku Tumi, mereka mempunyai sebuah pohon yang mereka sucikan yaitu pohon Belasa Kepampang (Pohon Nangka Bercabang). Kemudian pohon Belasa Kepampang ini di tebang yang merupakan sebagai pertanda jatuhnya kekuasaan Suku Tumi sekaligus hilangnya paham animisme di Kerajaan ini.

Menurut Zawawi Kamil (Menggali Babad & Sedjarah Lampung) disebutkan dalam sajak dialek Komering/Minanga: “Adat lembaga sai ti pakaisa buasal jak Belasa Kapampang, Sajaman rik tanoh Pagaruyung pemerintah Bundo Kandung, Cakak di Gunung Pesagi rogoh di Sekala Berak, Sangon kok turun temurun jak ninik puyang paija, Cambai urai ti usung dilom adat pusako” .

Terjemahannya “Adat Lembaga yang digunakan ini berasal dari Belasa Kepampang (Nangka Bercabang), Sezaman dengan ranah Pagaruyung pemerintah Bundo Kandung (pada abad 15), Naik di Gunung Pesagi turun di Sekala Brak, Memang sudah turun temurun dari nenek moyang dahulu, Sirih pinang dibawa di dalam adat pusaka, Kalau tidak pandai tata tertib tanda tidak berbangsa”.

Tanduk Kerbau Bertuliskan Aksara Lampung

Tanduk Kerbau Bertuliskan Aksara Lampung

Sekilas Mengenai Kampung Marga Kaya

Margakaya merupakan suatu wilayah yang terhuni sejak tahun 1738 oleh masyarakat Lampung Pubian.

Menurut Al Mutakin, Pangeran Paksi Kelana keturunan ke 15 dari keluarga Kuda Puhawang ahli waris sejarah Pekon Margakaya bahwa Kejudan Sangon Ratu keturunan kedelapan keluarga Kuda Puhawang berasal dari Sekala Bekhak (Skala Brak) yang tinggal di muara Way Tebu dan Way bulok pekon Margakaya.

Kampung Tertua di Kabupaten Pringsewu

Margakaya merupakan kampung tertua di Kabupaten Pringsewu. Kata Margakaya berasal dari dua kata, yakni Marga dan Kaya. Menurut Hadikusuma (1990), Marga dalam berarti kesatuan kampung adat Lampung yang mendiami suatu wilayah. Ini merupakan konsep budaya tentang masyarakat dan wilayahnya.

Sementara itu Kaya dalam bahasa Lampung berarti mirip atau seperti. Maka dari itu, Margakaya menurut penduduk berarti kampung yang luas wilayahnya seluas marga.

Luas marga dapat merujuk pada contoh berikut ini, Marga Way Semah dalam catatan Hadikusuma (1990). Merupakan bagian dari perserikatan adat Pepadun Pubiyan Telu Suku melingkupi wilayah kecamatan Gadingrejo, Pringsewu dan Gedongtataan. Sehingga kita ibaratkan bahwa luas wilayah kampung Margakaya pada saat itu kurang lebih seluas tiga kecamatan.

Penamaan ini memberikan penanda luasnya wilayah ini pada saat itu. Sebelum kemudian terhuni oleh masyarakat-masyarakat dari berbagai kelompok. Hingga wilayah ini menjadi nama desa di Pringsewu yang terdiri dari tiga dusun.

Hanya di satu dusun yang masih bisa ditemui masyarakat Lampung Pubian, karena dua dusun lainnya masing-masing sebgaian besar dihuni oleh masyarakat Jawa dan masyarakat Jawa Serang. Demikian ulasan Nenek Moyang Orang Margakaya, semoga bermanfaat.

tersarikan dari berbagai sumber*

 

Baca juga :

 

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

1 komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi.

Komentar Anda* Nama Anda* Email Anda* Website Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.